Indonesia Dapat Pengalihan Pesanan Garmen

JAKARTA (Kontan: Selasa, 23 Desember 2008 | 07:09) – Kabar baik bagi produsen garmen dalam negeri. Lantaran upah buruh yang melonjak di China, sejumlah prinsipal garmen dunia yang selama ini memesan dari China memindahkan pesanan mereka untuk tahun depan kepada Indonesia. Tak sedikit, total nilai order yang siap berpindah ke tangan ke pengusaha dalam negeri mencapai US$ 2 miliar atau setara 30% dari total order garmen China selama ini.

Saat ini, lonjakan upah di China mencapai 100%. Komponennya terdiri dari upah buruh, biaya jaminan sosial, dan asuransi kesehatan. Biaya upah naik dari US$ 100 menjadi US$ 200 per. Penyebabnya, biaya energi di China yang melonjak drastis. “Keadaan ini menyebabkan biaya produksi para prinsipal membengkak hampir 75%. Pada saat yang sama, pasar ekspor China terutama ke AS anjlok signifikan sehingga kian merugikan kalangan prinsipal garmen di China,” kata Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Benny Soetrisno saat Munas Kadin, Senin (22/12).

Pengalihan pesanan jatuh ke Indonesia bukan karena sebab. Akibat kenaikan biaya upah di China, Indonesia menjadi kompetitif. Sebab, saat ini upah buruh garmen tertinggi hanya sekitar US$ 120 per orang per bulan. Angka ini jauh lebih kompetitif dibandingkan dengan upah buruh negara-negara pesaing Indonesia seperti Malaysia dan Vietnam. Di kedua negara itu, upah buruh mencapai US$125 – US$130 per orang per bulan.

Beberapa daerah di Indonesia bahkan menerapkan upah buruh yang lebih rendah. Contohnya, Sukabumi yang mengenakan upah buruh hanya US$ 70 per orang per bulan. Sudah pasti kenaikan biaya produksi bakal mempengaruhi harga produk akhir. Nah, itu yang menyebabkan prinsipal garmen dunia keberatan dan mempertimbangkan kembali pesanan mereka dari China.

Beberapa prinsipal dunia yang mengalihkan pesanannya antara lain Nike, PIERS, Ralph Lauren, Target, Vanity Fair, dan Walmart, Abercrombie & Fitch, Asmarindo, Dewhirst, Hanesbrands, J.Crew, JC Penney, GAP, Jones Apparel, Levis, Li & Fung, Linmark, Liz Claiborne.

Pengalihan pesanan ini bakal masuk ke berbagai perusahaan garmen nasional mulai Januari 2009. “Prinsipal di China itu sebagian besar dari UE dan AS. Kalau ditotal, nilai order mereka bisa memberikan nafas tambahan untuk perusahaan garmen nasional namun hanya sampai Mei 2009,”kata Benny.

Ternyata, kabar buruk juga masih mengikuti kabar baik ini. Bahwa, pengalihan pesanan itu bakal hilang atau tak sepenuhnya diraih pengusaha dalam negeri. Padahal, tak hanya dari segi pendapatan, hal ini mengurangi jumlah pengangguran karena membuka penyerapan tenaga kerja baru sekitar 70.000 orang.

Produsen dalam negeri tidak siap menambah ekspansi untuk merespons tingginya nilai order. Pengusaha mengaku kesulitan memperoleh modal dari perbankan. Padahal, untuk meraup pesanan US$ 2 miliar setidaknya membutuhkan investasi tambahan sekitar US$300 juta. “Kami harapkan Bank Indonesia segera melakukan langkah terobosan agar perbankan nasional mau memberikan tambahan modal mengingat sektor garmen adalah industri yang masih prospektif dan menjadi kontributor terbesar dari sisi ekspor produk manufaktur,”pinta Benny.

Tak hanya bagi pengusaha, pengalihan pesanan adalah kabar baik bagi pemerintah. Direktur Tekstil Departemen Perindustrian Aryanto Sagala berharap pengusaha mampu meraih peluang itu. “Hal ini bakal mengurangi PHK yang diperkirakan banyak terjadi pada tahun depan, ” ujar Aryanto.

Nurmayanti

Leave a comment

Filed under ekonomi1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s