Teknologi Keselamatan Mobil Makin Canggih

Lampu depan adaptif atau pintar, mengubah dan menentukan arah sorotan sesuai dengan kondisi lingkungan dan arah mobil

Berbagai cara dilakukan para produsen mobil untuk mengurangi kecelakaan yang terjadi di jalan raya. Salah satunya, menambahkan peranti canggih yang bisa memperingatkan dan membantu pengemudi mengendalikan kendaraannya saat melaju bersama kendaraan lainnya dan menghadapi kondisi darurat.
Tidak semua mobil baru menggunakannya. Hanya beberapa merek dan itu pun dibatasi pada model tertentu. Padahal, kalau digunakan pada setiap kendaraan, kecelakaan tragis karena kelalaian manusia bisa dikurangi.

Karena banyak ragam teknologi keselamatan diciptakan produsen mobil bersama para vendor dan lembaga riset keselamatan lainnya dan kemudian diadopsi, dipilih 4 yang sudah banyak digunakan saat ini. Hal itu masih terus dikembangkan dengan fitur yang lebih baik lagi.

1. Kontrol Jelajah Adaptatif
Kontrol jelajah sebenarnya bukan lagi teknologi baru. Sudah pernah diperkenalkan pada awal 1990-an. Namun, versi sekarang jauh lebih canggih dan efektif. Kalau versi ‘jadul’ hanya ditugaskan untuk menjaga laju mobil konstan pada kecepatan yang telah ditentukan, kini dimanfaatkan untuk mengatur jarak dengan kendaraan yang berada di depannya.

Untuk ini, sistem terbaru dilengkapi dengan sensor atau radar yang bisa menghitung jarak aman dengan kendaraan di depan. Sistem bisa mengaktifkan pedal gas (mencegah pedal gas ditekan terus dan mengurangi kecepatan) serta mengaktifkan rem.

Sistem ini sangat bermanfaat bila tiba-tiba ada kendaraan di depan pindah jalur atau melambat. Lebih canggih jika sistem memperhitungkan kemungkinan akan terjadi tabrakan, rem ditekan lebih dalam, sabuk pengaman pun diaktifkan.

Begitu di depan tak ada lagi halangan atau kosong, kendaraan akan kembali pada kecepatan jelajah semula. Semua itu dilakukan tanpa perintah dari pengemudi. Versi lebih mutakhir, bisa bekerja dengan kondisi lalu lintas macet di dalam kota. Untuk ini, menurut TRW Automotive yang ikut mengembangkan sistem ini, digunakan radar jarak dekat dengan cakupan monitor lebih luas. Cara ini memungkinkan kendaraan mengikuti yang di depannya. Start, berhenti, dan akselerasi bisa dilakukan secara otomatis atau atas perintah dari pengemudi.

2. Pengingat Pengemudi & Deteksi “Blind Spot”
Alat ini menentukan kecepatan dan jarak kendaraan yang mendekat. Lantas memperingatkan pengemudi bahwa bahaya bisa saja terjadi bila pengemudi pindah jalur.

Sistem juga memperingatkan pengemudi bila kendaraan melaju tak karuan kayak orang mabuk karena pengemudi mengantuk. Peringatan dikeluarkan dalam bentuk getaran melalui jok, setir, dan alarm.

Sistem yang lebih canggih, memantau kondisi atau postur tubuh, posisi kepala dan aktivitas mata bila arah mobil sudah tidak karuan. Kalau sudah begini, sistem akan memperlambat laju kendaraan dan mengaktifkan kontrol stabilitas.

Pengingat lain adalah deteksi untuk obyek yang tidak kelihatan atau terlihat oleh pengemudi, baik saat melaju maupun waktu parkir. Sistem bekerja bila lampu sein dihidupkan. Jika sistem mendeteksi sesuatu, lampu di kaca spion akan berkedip. Indikator lainnya, jok dan setir bergetar atau alarm mengeluarkan suara. Sistem ini hanya untuk jarak dekat.

3. Bantuan Penglihatan Malam dan Lampu Depan Adaptif
Untuk membantu pengemudi melihat suatu obyek di malam hari saat mengemudi, mobil dilengkapi dengan penglihatan lampu inframerah atau menggunakan kamera termal-bayangan yang disebut night vision assist.

Alat ini digunakan untuk melihat obyek yang berada jauh di depan, misalnya binatang, orang atau pohon. Bisa bekerja sejauh 1 km untuk kondisi lurus.

Obyek atau bayang yang berhasil ditangkap, ditayangkan melalui layar di kokpit. Sistem juga menerangi obyek yang susah dilihat dengan mata telanjang.

Untuk lampu depan, digunakan teknologi adaptif. Dengan cara ini, sorotan akan mengikuti arah belok kendaraan (mengubah arah sorotan ketika mobil berada di tikungan). Panjang dan tinggi sorotan lampu bisa berubah sesuai dengan kecepatan mobil.

Sistem terbaru, sorotan lampu sesuai dengan kondisi di sekitarnya, misalnya, dalam kota yang dipenuhi cahaya lampu, luar kota yang banyak pohon, dan sebagainya. Dengan cara ini, lampu memperpanjang atau memperpendek sorotan ke depan. Bisa pula memperlebar sorotan ke samping saat membelok.

4. Pencegah Terguling (Rollover Prevention)
Banyak produsen mobil sekarang ini menawarkan sistem kontrol stabilitas elektronik yang disebut electronic stability program (ESP) atau electronic stability control (ESC). Sistem dilengkapi dengan pengaman yang bekerja lebih awal, yaitu mengencangkan sabuk pengaman dan mengaktifkan roll-bar.

Kehebatan teknologinya, bisa memperhitungkan kemungkinan mobil terbalik (misalnya ketika membelok dengan cepat). Pada kondisi seperti ini, rem diaktifkan, tekanan pada pedal gas dikurangi agar pengemudi lebih mudah mengontrol kendaraan.

Mercedes-Benz menyebutnya electronic roll mitigation, Ford dengan nama roll stability control dan GM dengan proactive roll avoidance. Range Rover menamakan active roll mitigation dan Volvo dengan roll over protection system. Semuanya sama.

ESP versi mutakhir, secara otomatis dapat melakukan penyesuaian kerja sesuai dengan ukuran dan jenis ban yang digunakan. Antisipasi ini dilakukan karena makin banyak pemilik mobil mengganti ban standar dengan ukuran lebih besar./*

sumber: Kompas Online Senin, 29/12/2008 | 15:54 WIB

Leave a comment

Filed under technologi informasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s